Mudah-mudahan dapat Bermanfaat untuk anda para blogger,
Gambar Gunung Semeru yang di ambil di kejauhan
Gunung Semeru terletak di Tengger, Malang, Jawa Timur, dia juga Terletak di jantung cincin api dan salah satu ratusan gunung berapi Di Indonesia ini
gunung berapi ini menarik untuk di daki karena gunung ini mempunyai keindahan yang sangat menajubkan untuk di lihat dan gunung ini tingginya sekitar
3.676 meter-tinggi kalo saya liat di peta saya,
3.676 meter-tinggi kalo saya liat di peta saya,
Tapi untuk mencapai puncak sangatlah tidak mudah karena banyak penampakan mistis di gunung ini yang mengganggu pendaki atau juga melarang, barang siapa yang melarang akan dapat hukuman, itulah informasi dari penduduk sekitar
Pejalan
kaki dapat di manjakan pemandangan yang indah bahkan tanpa mendaki gunung, ada beberapa objek yang bisa kita datangi disana seperti Ranu Kumbolo, yang
terkenal dengan air biru dan perbukitan hijau yang menakjubkan
yang mengelilinginya . Hanya 15 menit berjalan kaki dari danau yang berisi pemandangan padang rumput Oro Oro Ombo , sebuah savanna 100 hektar .
2 jam berjalan kaki dari savana ke lapangan jambangan anda dapat di manjakan dengan ribuan bunga yang indah
ini gambar yang saya ambil dari google
Di sini para pendaki harus waspada dengan gas beracun yang banyak di temukan, pejalan kaki harus mencapai puncak sebelum tengah hari sebagai perubahan arah angin berembus gas beracun ke jalur pendakian .
Sebagai pendakian ke puncak dari kamp terendah memakan waktu sekitar tujuh jam , pejalan kaki melakukan apa yang disebut " summit attack " harus mulai naik pada tengah malam , dalam menghadapi angin kencang dan suhu minus nol .
Tujuh jam pendakian melelahkan sebagai pendakian 60 derajat di medan berpasir menawarkan pijakan yang tidak stabil , yang merupakan energi sapping , serta ketakutan batu jatuh dari atas .
Sebagai pendakian ke puncak dari kamp terendah memakan waktu sekitar tujuh jam , pejalan kaki melakukan apa yang disebut " summit attack " harus mulai naik pada tengah malam , dalam menghadapi angin kencang dan suhu minus nol .
Tujuh jam pendakian melelahkan sebagai pendakian 60 derajat di medan berpasir menawarkan pijakan yang tidak stabil , yang merupakan energi sapping , serta ketakutan batu jatuh dari atas .
Tetapi semua itu terbayarkan dengan tontonan panorama pegunungan,matahari terbit , pantai selatan jawa, serta kota pun terlihat dan yang sangat menabjubkan ialah kawahnya.
Tetapi juga gunung ini menyimpan banyak mitos. konon adalah tempat bersemayamnya para
dewa
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad
15, Pulau Jawa dulunya mengambang di lautan luas dan terombang-ambing
dipermainkan ombak. Pada suatu saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau
tersebut dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut
dinamakan Jawa. Namun pulau tersebut masih terombang ambing tak menentu.
Para Dewa lalu memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India di atas Pulau Jawa. Untuk memindahkan Gunung Meru tersebut, Dewa Wisnu kemudian menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa dan menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut.
Kedua dewa tersebut lalu meletakkan gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Wisnu dan Brahma lalu memotong Gunung Meru dan meletakkannya satu di ujung timur dan satu di barat.
Potongan gunung yang berada di sebelah barat membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Di gunung inilah diyakini para dewa bersemayam.
Dalam agama Hindu Gunung Semeru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung antara bumi (manusia) dan kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Tak ayal, hingga saat ini banyak masyarakat Jawa dan Bali masih menganggap gunung sebagai Semeru tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus.
Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru juga dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.
Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.
Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat hantu Ranu Kumbolo. Banyak orang yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh hantu-hantu.
Meski demikian, hal itu tergantung dari sudut mana melihatnya, namun yang jelas, Mahameru merupakan salah satu gunung dengan potensi yang luar biasa. Ketinggiannya, keindahan alam, legenda dan misteri yang menyelimutinya merupakan aset yang perlu di jaga dan dilestarikan.
Para Dewa lalu memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India di atas Pulau Jawa. Untuk memindahkan Gunung Meru tersebut, Dewa Wisnu kemudian menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa dan menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut.
Kedua dewa tersebut lalu meletakkan gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Wisnu dan Brahma lalu memotong Gunung Meru dan meletakkannya satu di ujung timur dan satu di barat.
Potongan gunung yang berada di sebelah barat membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Di gunung inilah diyakini para dewa bersemayam.
Dalam agama Hindu Gunung Semeru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung antara bumi (manusia) dan kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Tak ayal, hingga saat ini banyak masyarakat Jawa dan Bali masih menganggap gunung sebagai Semeru tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus.
Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru juga dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.
Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.
Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat hantu Ranu Kumbolo. Banyak orang yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh hantu-hantu.
Meski demikian, hal itu tergantung dari sudut mana melihatnya, namun yang jelas, Mahameru merupakan salah satu gunung dengan potensi yang luar biasa. Ketinggiannya, keindahan alam, legenda dan misteri yang menyelimutinya merupakan aset yang perlu di jaga dan dilestarikan.
Semua gunung mempunyai misteri tersendiri, hendaknya mendaki
dengan sopan dan tidak mengganggu apapun yang ada di setiap gunung yang
didaki. Alam, jin, manusia, serta semua ekosistem di pegunungan adalah
ciptaan Yang Maha Kuasa. Seyogyanya, selalu berdo’a dan ingat
kepada-Nya, tidak berbicara kotor, serta tidak sombong tatkala sampai ke
puncak gunung.
itu informasi yang saya dapatkan dari kakak saya, dan sebagian dari google
terimakasih..

